TAYAMUM DALAM 4 MADZHAB
Bagian 2
Apa Saja yang Sah Untuk Digunakan Bertayamum?
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Setiap
benda suci yang muncul diatas permukaan bumi berupa tanah, pasir, batu dan
sejenisnya walaupun tidak ada debu yang melekat.
|
Madzhab
Maliki
|
Setiap
benda suci yang muncul diatas permukaan bumi berupa tanah, pasir, batu dan
sejenisnya walaupun tidak ada debu yang melekat.
|
Tidak
sah kecuali dengan tanah yang suci, yang debunya melekat pada tangan. Tapi,
boleh bertayamum dengan debu yang melekat pada sarung bantal, pakaian, tikar,
dinding, dsb.
|
|
Madzhab
Hanbali
|
Tidak
sah kecuali dengan tanah yang suci, yang debunya melekat pada tangan. Tapi,
boleh bertayamum dengan debu yang melekat pada sarung bantal, pakaian, tikar,
dinding, dsb.
|
Jarak yang Diperintahkan Untuk Mencari Air Bagi Orang yang
Meyakini Adanya Air.
|
|
Madzhab
Hanafi
|
1
mil
|
Madzhab
Maliki
|
2
mil.
|
Madzhab
Syafi’i
|
6000
langkah
|
Madzhab
Hanbali
|
Jarak
yang dekat menurut kebiasaan.
|
Apabila seseorang lupa kalau dia membawa air dalam perbekalannya,
lalu shalat dengan bertayamum. Apakah harus mengqadha’ shalatnya?
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Tidak
wajib mengqadha’ shalat tersebut.
|
Madzhab
Maliki
|
Dia
harus mengqadha’ shalat tersebut ketika waktu shalat belum habis. Ketika ingat
di luar waktu shalat, maka tidak diqadha’.
|
Madzhab
Syafi’i
|
Dia
harus mengqadha’ shalatnya baik ketika di dalam atau di luar waktu shalat.
|
Madzhab
Hanbali
|
Dia
harus mengqadha’ shalatnya baik ketika di dalam atau di luar waktu shalat.
|
Bila Ditemukan Air, Tayamum Masih Berlaku atau Tidak
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Masih
berlaku tidak perlu berwudhu lagi
|
Madzhab
Maliki
|
Tidak
berlaku sehingga harus berwudhu
|
Madzhab
Syafi’i
|
Tidak
berlaku sehingga harus berwudhu
|
Madzhab
Hanbali
|
Tidak
berlaku sehingga harus berwudhu
|
Hukum Bertayamum Untuk Bersuci dari Najis.
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Tidak
boleh
|
Madzhab
Maliki
|
Tidak
boleh
|
Madzhab
Syafi’i
|
Tidak
boleh
|
Madzhab
Hanbali
|
Boleh
|
Tayamum Untuk Menunaikan Shalat padahal belum Masuk Waktunya
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Boleh
|
Madzhab
Maliki
|
Tidak
boleh
|
Madzhab
Syafi’i
|
Tidak
boleh
|
Madzhab
Hanbali
|
Tidak
boleh
|
Hukum Orang yang Tidak Mendapatkan Air dan Tanah Untuk Bersuci .
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Dia
tidak shalat hingga ia mendapatkan air, kemudian mengqadha shalat tersebut.
|
Madzhab
Maliki
|
Dia
tidak shalat dan juga tidak mengqadha
|
Madzhab
Syafi’i
|
Dia
shalat sesuai dengan kondisinya dan mengulanginya jika mampu.
|
Madzhab
Hanbali
|
Dia
shalat sesuai dengan kondisinya dan tidak harus mengulangi menurut pendapat
yang paling shahih dari dua riwayat.
|
Hukum Mengakhirkan Tayamum Hingga Akhir Waktu
|
|
Madzhab
Hanafi
|
Disukai
jika mempunyai harapan akan mendapatkan air.
|
Madzhab
Maliki
|
Disukai
mengakhirkan tayamum jika dia mempunyai harapan akan mendapatkan air. Jika
tidak, maka disunahkan mendahulukannya
|
Madzhab
Syafi’i
|
Mendahulukan
adalah lebih utama, kecuali jika dia meyakini keberadaan air pada waktu itu
|
Madzhab
Hanbali
|
Mengakhirkannya
lebih utama dalam kondisi apapun.
|
Referensi Fikih Hanafi
Al-Ikhtiyar Li Ta’Lil al-Mukhtar, Abdullah bin Mahmud bin Maudud
al-Mushili
Nashbu Royah Ii Takhrij Ahadits al-Hidayah,
Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Muhammad Az Zila’i al-Hanafi
Al-Mabsuth, Syamsudin As-Sarkhasi
Al-Fiqh al-Hanafi Fi Tsaubih al-Jadid, Abdul Hamid Mahmud
Thahmaz
Referensi Fikih Maliki
Bidayat al-Mujtahid Wa Nihayat al-Maqashid, Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin
Muhammad bin Ahmad bin Rusyd al-Qurthubi Asy Syahir bi Ibnu Rusyd al-Hafid
Hasyiyah Ad Dasuqi ‘Ala Syarh al-Kabir, Muhammad bin Ahmad Ad-Dasuqi
Al-Khulashoh al-fiqhiyah ‘ala al-madzhab as-saadah
al-malikiyah, Muhammad
Al’aroby al-Qorwi
Referensi Fikih Syafi’i
Raudhatu ath-Thalibin Wa Umdat al-Mutin, Abu Zakariya Yahya bin Syarafuin
An-Nawawi
Nihayatul Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, Syamsudin Muhammad bin Abul Abbas
Ahmad bin Hamzah Syihabudin ar-Ramli
Al-Umm, Muhammad bin Idris
asy-Syafii
I’anat Ath Thalibin, al-Bakri Ad-Dimyathi al-Muthalibi
Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifat al-Fazh
al-Minhaj, Muhammad bin
Ahmad al-Khatib asy-Syarbini
Kifayat al-Akhyar Fi Hall Ghayat al-Ikhtishar, Taqiyudin Abi Bakr bin Muhammad
al-Husaini
Referensi Fikih Hambali
al-Iqna’ I Fiqh al-Imam Ahamd bin Hanbal, Syarafudin Musa bin Ahmad bin Musa
Abu an-Naja al-Hijawi
Al-Mughni Fi Fiqh al-Imam Ahmad bin HanbAl-Asy
Syaibani, Abdullah bin
Ahmad bin Qudamah al-Maqdisy
Al-Fiqh al-Hanbali al-Muyassar, Wahbah Zuhaily
Referensi Umum
Al-fiqh al-Islami
wa Adillatuhu, Wahbah Zuhaily,
Al-Fiqh Ala al-Madzahib al-Arba’ah, Abdurrahman al-Jazari
Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar