Jurusan Tarbiyah (Prodi. Pendidikan Agama Islam) Fakultas
Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang dalam rumusan misinya menyebutkan
tiga hal: pertama, menyelenggarakan pendidikan tingkat Sarjana
Strata Satu (S1) yang berbasis riset sebagai pijakan pengembangan kajian
keislaman dan kependidikan Islam. Kedua, mengembangkan kemampuan
metodologis kepada mahasiswa Strata Satu untuk melakukan kajian dan penelitian
di bidang keislaman dan kependidikan. Dan ketiga, mengembangkan
keahlian dan keterampilan mahasiswa yang mendukung profesi di bidang
kependidikan.
Dari misi yang diembannya ini, Jurusan Tarbiyah berharap dapat melahirkan Sarjana Pendidikan Islam yang memiliki integritas intelektual dan moral sesuai dengan bidangnya dengan kualifikasi: a) Menguasai ilmu-ilmu keislaman, normatif maupun historis, dan melaksanakannya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat; b) Menguasai ilmu-ilmu kependidikan Islam, baik pada dataran konsep, teoritik maupun praktis; dan c) Mengusai dasar-dasar metodologi untuk mengembangkan ilmu-ilmu keislaman dan kependidikan Islam.
Untuk mencapai tujuan di atas, Jurusan Tarbiyah sudah
semestinya menyediakan milliu dan proses pembelajaran yang kondusif bagi
civitas akademikanya (baca: Dosen dan Mahasiswa) dalam mengembangkan integritas
keilmuan, keberislaman, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu
sarana pendukung akademik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang
kondusif itu adalah laboratorium pendidikan.
Walaupun hanya sebagai unsur penunjang kegiatan akademik, keberadaan laboratorium di suatu perguruan tinggi sungguh merupakan sebuah keharusan (conditio sine quanon). Hal ini mengingat bahwa pertama, laboratorium merupakan wadah pemusatan bidang keilmuan, teknologi dan atau kesenian tertentu, tempat otoritas dan integritas akademik ditumbuhkembangkan. Kedua, secara fungsional, penyelenggaraan seluruh kegiatan akademik di perguruan tinggi harus dilandaskan pada laboratorium; dan ketiga, laboratorium merupakan sarana mahasiswa untuk lebih mudah memahami persoalan-persoalan yang dihadapi di ruang kuliah, selain meningkatkan keterampilan mereka dalam mengerjakan sesuatu. Berdasar uraian inilah laboratorium Tarbiyah ini dibangun.
1. Fase Embrional
Kebutuhan akan adanya tempat praktikum bagi mahasiswa Tarbiyah terutama dalam meningkatkan keterampilan dasar mengajar mendesak jurusan untuk menggunakan kelas konvensional sebagai wahana micro teaching (amaliyat al-tadris). Hal ini berjalan lama, hingga Jurusan Tarbiyah mendapat hibah dari Departemen Agama RI berupa Ruang Micro Teaching beserta peralatannya pada tahun 1998, tepatnya pada saat kepala Jurusan Tarbiyah dijabat oleh Drs. M. Nurul Humaidi dan Dekan Fakultas Agama Islam oleh Drs. M. Nurhakim, M.Ag. Ruang Micro Teaching ini difasilitasi oleh Universitas di Gedung Peternakan lantai I mengahadap ke kolam (saat ini menjadi Warnet UMM bersebelahan dengan ruang baca mahasiswa).
Sejak saat itulah, mata kuliah-mata kuliah yang bersifat kependidikan dapat diperkuat dengan praktikum di ruang ini. Walaupun praktikum telah berjalan namun semua kegiatannya masihincluded di dalam proses belajar mengajar mata kuliah tersebut. Sehingga sifat pembelajaran berpraktikum itu “tidak dapat dikontrol” (tidak ada modul, tidak ada asistensi, juga tidak ada laboran). Sepenuhnya tergantung pada dosen pengampu mata kuliah. Selain itu, ruang micro ini juga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh dosen-mahasiswa Tarbiyah karena letak ruang yang jauh dari pusat belajar dan perkantoran Fakultas Agama Islam (saat itu di GKB I lantai 4 dan ruang perkuliahannya di lantai 5).
2. Fase Pembangunan
Hingga pada akhir 2003, Dekan FAI saat itu, Drs. M. Nurhakim, M.Ag menunjuk Saiful Amien, S.Ag untuk memenej Micro Teaching ini. Pada saat itulah mulai dirumuskan pemikiran tentang perlunya laboratorium pembelajaran di Tarbiyah. Draft awal untuk itu disiapkan dan digodok oleh tim kecil hingga terwujudnya Laboratorium Pembelajaran dan Pengkajian Pendidikan Islam (Lab. P3I).
Selain terumuskannya profil Laboratorium, pada bulan Januari tahun 2004 juga digodok muatan mata kuliah berpraktikum dalam suatu lokakarya. Hasilnya berupa 4 mata kuliah berpraktikum yaitu Keterampilan Dasar Mengajar, Metodologi PAI, Teknologi Pendidikan, dan Komunikasi Dakwah, walaupun kegiatan praktikumnya masih seperti dulu, yakni silabi, modul dan sistemnya amat bergantung kepada dosen pengampu matakuliah.
Pada tahun 2005, Universitas
melakukan pemetaan ulang pusat belajar dan perkantoran selain untuk persiapan
fisik menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-45 di kampus ini. FAI mendapat lokasi
baru di Gedung Kuliah Bersama (GKB) III lantai 5. Dan sejak saat itulah
laboratorium P3I memiliki ruang baru di gedung tersebut. Selang beberapa saat
kemudian, tepatnya pada akhir 2005, turun SK Rektor tentang pengangkatan Saiful
Amien, S.Ag sebagai Kepala Laboratorium Tarbiyah. Ini merupakan suatu pertanda
diakuinya laboratorium ini oleh Universitas, sekaligus merubah namanya dari
Lab. P3I menjadi Laboratorium Tarbiyah. “Lab. Tarbiyah, saya kira lebih
singkat, populer, dan mudah diucapkan. Namanya saja yang berubah tetapi ruh
pengembangannya tetap diarahkan pada apa yang ditetapkan di dalam profile Lab.
P3I dulu” kata Dekan FAI, Drs. Khozin, M.Si saat itu.
Pada satu tahun pertama, pasca peresmiannya, laboratorium ini lebih banyak melakukan penataan internal baik secara fisik (hardware) maupun non-fisik (software). Secara fisik diarahkan pada perbaikan dan pengembangan fasilitas micro teaching, dan yang telah terwujud hingga saat ini ialah adanya fasilitas multimedia dan majalah dinding sebagai wahana komunikasi intelektual insan tarbiyah sekaligus untuk meramaikan academic atmosphire di Jurusan Tarbiyah. Sedangkan penataan non-fisik lebih diarahkan pada basis pengembangan praktikum mahasiswa, seperti penguatan materi praktikum melalui semi lokakarya (April 2006) menjadi 13 mata kuliah; penggodokan arah dan pengembangan laboratorium; dan penggodokan draft panduan Praktik pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa tarbiyah.
1. Divisi
Pelatihan dan Praktikum
Divisi ini diarahkan untuk menangani semua program yang berkenaan dengan pelatihan (training), pembelajaran (learnership) dan praktikum mahasiswa Jurusan Tarbiyah dalam rangka membantu jurusan memperkuat process of learning yang kondusif bagi mahasiswanya.
2. Divisi Penelitian dan Pengkajian
Divisi ini diarahkan untuk membidangi semua kegiatan yang bersifat penelitian dan pengkajian kependidikan (dan pembelajaran) Melalui divisi ini Laboratorium Tarbiyah diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan di semua lini bidang pembelajaran dan kependidikan Islam (pemikiran; sistem; metodologi; kelembagaan; managerial, media/ teknologi pembelajaran dll.)
3. Divisi Pengabdian Masyarakat
Divisi ini diarahkan untuk menangani semua kegiatan kependidikan dan pembelajaran Islam yang bersifat terapan (applicated) langsung kepada masyarakat. Melalui divisi ini Laboratorium Tarbiyah diharapkan memiliki andil, sebagai wujud pengabdian masyarakat, dalam memberdayakan umat Islam menuju learning society (al-mujtama’ al-muta’allimah; masyarakat pembelajar).
Selain fasilitas Laboratorium Tarbiyah di atas, Jurusan Tarbiyah juga bisa menggunakan fasilitas-fasilitas lainnya yang digunakan secara bersama-sama di Fakultas Agama Islam. (untuk mengetahui fasilitas-fasilitas tersebut, klik di sini)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar